Di tengah kesunyian rumah, setelah membersihkan diri dan memperhatikan Leena, Lynx berdiri dengan ekspresi berat kembali terlihat di wajahnya. Cahaya pagi belum mampu menghapus bayangan gelisah di wajahnya mengingat kondisi para pemuda suku Surya yang masih berada dalam pengaruh sihir. Setelah memastikan Leena tertidur kembali, ia segera melangkah menuju dunia kecil untuk memeriksa kondisi Rira dan yang lainnya.

Lala sedang duduk di depan layar komputer, raut wajahnya penuh kelelahan dan frustrasi. Di dekatnya, terlihat seorang wanita dalam kondisi terikat di meja dengan banyak komponen kabel terpasang di sekujur tubuhnya. Mulai dari alat pemeriksa kondisi kesehatan, pemantau kehidupan dan berbagai alat medis berteknologi canggih yang digunakan untuk meneliti kondisi Rira.

"Aku sudah mencoba segalanya," kata Lala lirih begitu melihat Lynx datang. "Ilmu sihir yang mengikat kesadaran mereka... terlalu dalam. Aku belum bisa menemukan cara untuk mengembalikan kondisi mereka seperti biasa."

Lynx mendekat, matanya menyorot tajam menatap Rira. "Aku juga sudah mencoba memasuki pikirannya. Awalnya aku mengira akan sama seperti menghilangkan pengaruh hipnotis Kanaya, namun ternyata tidak bisa dengan cara itu untuk menyadarkannya."

Lynx mendesah panjang. "Saat aku mencoba menembus ruang kesadaran mereka, bahkan hanya untuk menyentuhnya pun tidak bisa. Aku merasa seperti masuk ke dalam jurang tanpa dasar, hitam dan dingin, menolak setiap bentuk intervensi."

Kanha yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan akhirnya angkat bicara.

"Kak Lynx, selama disana, mereka selalu diberi minuman khusus setiap beberapa hari sekali," katanya pelan. "Aku mendengar sendiri saat para penyihir memberi instruksi kepada mereka agar secara bergantian memeriksa sebuah kristal, jika berubah merah mereka harus meminum cairan yang sudah dipersiapkan."

Belum sempat Lynx bertanya lebih jauh, tiba-tiba suara jeritan Rira terdengar. Tubuhnya menggeliat seperti kesakitan. Tubuhnya mengejang dan berkeringat dingin.

"Lala, apa yang terjadi dengan Rira?" tanya Lynx sambil menyalurkan energi saktinya ke tubuh Rira untuk menenangkan.

"Aku tidak tahu, tapi liat, tanda vitalnya turun drastis, apa yang sebenarnya terjadi?" Lala berkata dengan panik. Tangannya menekan berbagai tombol peralatan dan membaca berbagai indikator yang muncul untuk mencari penyebabnya.

Namun tidak lama serempak suara teriakan menggema dari ruang-ruang tempat para korban ditahan. Mereka mengalami hal yang sama seperti Rira, menggeliat kesakitan, tubuh mereka mengejang dan berkeringat dingin.

"Kak Lynx, aku pernah melihat salah satu dari mereka mengalami hal ini karena lambat minum saat mencari makanan di hutan. Kurasa hari ini mereka harus minum cairan itu," desis Kanha panik, tubuhnya bergetar saat melihat semakin banyak yang teriak kesakitan.

Lala dan Lynx memeriksa energi kehidupan para korban dengan kekuatan mereka, aura kehidupan merasa terasa menurun drastis. "Lynx, kita harus melakukan sesuatu. Pasti ada yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan mereka."

Wajah Lynx berubah tegang."Benar, pasti ada cara menolong mereka. Aku harus menemukan para penyihir itu. Mungkin sudah kembali ke markas mereka. Aku harus kesana untuk memastikan."

Tanpa menunggu lebih lama, ia menghilang dari tempat itu, langsung menuju markas para penyihir.

Markas persembunyian para penyihir itu terlihat sunyi. Debu masih menggantung di udara, menyimpan jejak langkah para tahanan sebelumnya. Namun saat Lynx tiba di tempat tersebut, lima sosok berdiri dalam lingkaran kristal ungu yang berdenyut pelan. Mira dan keempat rekannya telah menunggu.

"Akhirnya kita bertemu lagi Lynx." Mira bergerak maju dan tersenyum.

Lynx yang telah mendapatkan cerita dari para penduduk suku Surya tidak lagi merasa heran dengan sosok wanita di depannya yang ternyata seorang penyihir."Kamu... Mira. Kenapa kamu melakukan ini semua? Kalian berasal dari pulau yang sama, seharusnya kalian saling membantu di tempat ini."

Mira tersenyum dan berkata, "Membantu? Aku sudah membantu mereka dengan melepaskan mereka dari tahanan pihak kerajaan dan membawa mereka ke tempat ini serta merawat mereka. Seharusnya kalian berterima kasih kepadaku."

"Melepaskan? Kamu menyiksa mereka dan menjadikan mereka sebagai budak kalian. Aku ingin kalian melepaskan sihir dari suku Surya," katanya tanpa basa-basi. Suaranya tenang tapi penuh tekanan. "Segera."

Mira menatapnya, senyum tipis terukir di wajahnya yang anggun namun menyimpan kegelapan berusia ratusan tahun.

"Jika kamu ingin mereka selamat, maka kamu harus tunduk padaku, Lynx. Serahkan dirimu. Menjadi milik kami. Atau mereka akan mati perlahan."

Lynx mendekat, seulas senyum mengejek terbit di sudut bibirnya.

"Bagaimana kalau begini?"

Tanpa memberi mereka waktu bereaksi, tubuh Lynx bergerak cepat laksana kilat. Dalam sekejap, dia menusukkan jarum akupuntur yang diambilnya dari cincin penyimpanan dan menusuk titik-titik tertentu di tubuh ke lima penyihir tersebut yang membungkam suara dan gerakan mereka. Saat melihat pertarungan Leena dengan Rira, Ia telah memperhatikan dari Rira, bahwa mantra sihir dilontarkan dengan mengucapkan kata-kata sihir dan gerakan kecil. Maka ia tidak membiarkan celah sedikit pun.

Tangan kirinya mencengkeram leher Mira, mengangkat tubuh wanita itu seperti boneka ringan.

"Aku sudah menyelamatkan kalian saat di pulau, tapi ini balasan kalian. Aku akan membebaskan kalian... jika kalian melepaskan semua penduduk Surya tanpa terkecuali," bisiknya, nadanya dingin seperti baja.

Mira mendelik, matanya menyala dengan amarah. Namun tubuhnya tidak bisa bergerak, mulutnya tak mampu mengucap mantra, dan kekuatannya tidak bisa mengalir. Lynx tidak memberi ruang untuk kebangkitan sihir.

"Jika kamu setuju, anggukkan kepala. Jika tidak..." Lynx menatap mata Mira tajam, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu. "Jangan harap aku akan melepaskan kalian. Bahkan, aku bisa menyiksa kalian semua dengan siksaan yang tidak pernah kalian bayangkan."

Namun reaksi yang ia dapat bukanlah ketakutan.

Mira menunjukkan eksprei tertawa, tawa pelan yang menjalar seperti kabut beracun.

Lynx menyipitkan mata, tapi sebelum ia sempat bergerak, suara asing menggema dalam benaknya.

"Kau pikir ancaman seperti itu akan membuat kami takut? Kami ini penyihir yang hidup ratusan tahun. Kematian dan kehinaan adalah hal yang sudah kami kuasai sejak lama."

Lynx terkejut. "Telepati?"

"Apa kau pikir mantra hanya bisa diucapkan dengan suara dan gerakan?" suara tersebut terdengar lagi di pikirannya.

Ruang tiba-tiba bergemuruh dan memunculkan formasi sihir ketika Mira merapal salah satu mantra terkuatnya, dan dari dalam formasi sihir sebuah cahaya menyilaukan menyala.

Dalam hitungan detik, makhluk raksasa bertanduk dengan tubuh berotot tebal dan kampak raksasa di tangannya muncul di tengah ruangan. Taurus. Salah satu dari dua belas kekuatan mistis bintang zodiak.

Makhluk itu meraung dan langsung mengayunkan kampaknya ke arah Lynx.

Lynx mendesis, lalu tersenyum. "Menarik juga. Ternyata kamu masih bisa melawan."

Lynx bergerak sedikit untuk menghindari ayunan kampak dan melancarkan serangan balik mengayunkan pukulan menghantam Taurus. Dengan satu pukulan tersebut, Lynx mermperkirakan mahluk tersebut akan binasa, namun setelah terkena seranan kuat dari Lynx tubuh raksasa itu tidak bergeming. Lynx terkejut, kekuatannya yang biasanya bisa menghancurkan gunung... tak berdampak apa-apa.

Dalam keterkejutannya, Lynx segera menghindari serangan berikutnya, namun ia tidak melepaskan Mira. Dengan cepat, ia melompat sambil membawanya di pelukan.

"Dasar pemuda bodoh!" Mira menggeliat marah. "Lepaskan aku dan hadapilah Taurus kalau kau berani!"

Lynx menghindar, serangan demi serangan menghujam ruangan, meremukkan dinding dan lantai. Namun semua itu hanya meningkatkan ketegangan. Ia tetap memeluk Mira, tubuh mereka berputar di udara setiap kali ia melompat menghindari kampak maut itu. Selain menghindar, dia juga menghujani tubuh Taurus dengan pukulan saktinya, namun pukulan itu tidak memberikan dampak apapun.

"Sepertinya kau benar-benar menyukai tubuhku," sindir Mira, napasnya terengah tapi masih bisa tertawa. "Sampai-sampai kau tak mau melepaskannya."

"Diam kamu. Aku tidak akan melepaskanmu kecuali kamu melepaskan suku Surya."Jawab Lynx sambil menghindari serangan demi serangan.

Mira merapal lagi dalam batin. Tiga formasi terbuka."Kita lihat apa kamu masih sanggup bertahan?"

Leo muncul dengan rambut emas menyala, tubuhnya penuh luka bekas pertempuran sesama penyihir di abad kegelapan. Scorpio datang dengan ekor tajam menjuntai dan tubuh berbalut duri. Aquarius yang cantik melayang di udara, tubuhnya anggun dan dingin, membawa kendi kristal berisi air kehidupan yang berputar di sekelilingnya seperti planet mengorbit bintang.

Kini Lynx harus menghadapi empat makhluk sihir, sambil tetap menggenggam Mira.

Serangan datang bertubi-tubi. Aquarius mengayunkan air dalam pusaran mematikan. Leo menerjang dengan raungan. Scorpio melompat dan menusuk dengan ekor. Taurus kembali mengayunkan kampak beratnya.

Lynx bergerak seperti tarian angin. Tubuhnya bergerak cepat, membelok, membelok lagi, menciptakan badai langkah sambil melakukan pukulan di setiap titik, namun tidak ada hasil.

"Kamu tidak akan bisa mengalahkan mereka, Lynx. Menyerahlah!" kata suara yang muncul di pikiran.

"Berisik. Kamu yang harus menyerah." kata Lynx sambil melompat menghindari serangan aquarius. Namun satu serangan dari Aquarius tersebut melenceng. Air sihir itu meluncur cepat dan akan menghantam keempat penyihir yang masih tidak mampu bergerak.

Wajah Lynx berubah seketika.

Tanpa ragu, ia melapisi tinjunya dengan energi sakti lalu mengayunkannya ke arah serangan sihir Aquarius. Bola energi dengan cepat meluncur bagaikan meteor ke arah sihir air yang dikeluarkan Aquarius.

DUARRRR!!!

Ledakan terjadi saat energi Lynx bertemu dengan air sihir aquarius. AKibat ledakan tersebut, tubuh Aquarius terlempar jauh.

"Berhasil?" batin Lynx.

"Mereka terkena serangan energiku. Aku harus mencobanya lagi." tekad Lynx sambil memandang lawan-lawannya.

Tanpa berhenti. Tangannya kini dialiri energi saktinya. Ia melompat, memutar, dan menghantam satu per satu zodiak dengan energi sakti yang sudah sekian lama tidak pernah ia gunakan untuk pertarungan.

DUAR!!!

DUAR!!!

DUAR!!!

Dalam sekejap, tanpa bisa menghindar, mereka terkena serangan dengan telak. Taurus, Leo, Scorpio, dan Aquarius menghilang seperti asap.

Ruangan menjadi hening. Debu mengepul. Batu runtuh dari langit-langit.

Lynx berdiri di tengah-tengah kehancuran itu, masih menggenggam Mira.

"Mereka sudah musnah," katanya dengan nada dingin.

"Dan sekarang... menyerahlah."

